Selasa, 18 Juni 2013

Penataan Ruang Kelas dan Pengaturan Kelas

PENATAAN RUANG KELAS DAN PENGATURAN KELAS

I.                   Pendahuluan

            Sebagian besar kondisi fisik dan pengaturan ruang kelas yang kurang sesuai memiliki pengaruh terhadap kemungkinan munculnya gangguan terhadap proses belajar mengajar. Hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas konsentrasi siswa. Temperatur ruangan yang terlalu dingin atau panas dan sistem ventilasi yang kacau misalnya, dapat menurunkan konsentrasi siswa. Terkadang, perabotan serta materi fisik penunjang proses pembelajaran perlu ditata sedemikian rupa untuk membuat siswa mampu memusatkan perhatian mereka terhadap pembahasan dalam forum kelas. Karena peletakan media peraga atau material lain yang tidak pada tempatnya akan menyebabkan terhalangnya pandangan siswa terhadap fokus pembelajaran.
            Agar tercipta suasana belajar yang nyaman dan efektif, seorang guru perlu memperhatikan  pengaturan dan penataan ruang kelas dalam proses belajar mengajar. Karena ketika ruangan kelas tertata dengan teratur dan nyaman, proses pengajaran akan berjalan dengan baik.
            Dalam pelaksanan proses belajar mengajar terdapat berbagai permasalahan terkait dengan penataan dan pengaturan ruang kelas, dan pada makalah ini kami mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
a.      Bagaimanakah penataan ruang kelas dalam Pengelolaan Kelas  itu?
  1. Apakah yang menjadi bagian dari Pengaturan Lingkungan Fisik Kelas ?
  2. Bagaimanakah hendaknya pengaturan tempat duduk siswa itu?
Dari rumusan masalah tersebut dapat kami sampaikan tujuan penulisan makalah kami, yaitu :
  1. Pemahaman tentang penataan ruang kelas dalam pengelolaan kelas.
  2. Pengetahuan tentang bagian dari pengaturan lingkungan fisik kelas.
  3. Pengetahuan tentang bermacam-macam bentuk tempat duduk siswa.

II.                PEMBAHASAN

A.    Pengertian Penataan Ruang Kelas dalam Pengelolaan Kelas
Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan pengaturan dan penataan ruang kelas/belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara kuasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam pengaturan perlu diperhatikan hal-hal berikut: Ukuran dan bentuk kelas, bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa, jumlah siswa dalam kelas, jumlah siswa dalam setiap kelompok, jumlah kelompok dalam kelas, komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa pandai dengan siswa kurang pandai, pria dan wanita)[1]
            Dalam hal ini, kami akan menguraikan pada pembahasan mengenai pengaturan kondisi ruangan kelas, pengaturan tempat duduk, dan pengaturan alat-alat pengajaran.

1
. Pengaturan Kondisi Ruangan Kelas
Kegiatan belajar mengajar mencakup segala jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan, baik secara langsung ataupun tidak, yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan – tujuan pengajaran yang telah digariskan. Adapun faktor – faktor yang harus dilakukan dalam penyelenggaraan kelas, yaitu :

a.Ventilasi dan Tata Cahaya
   Kondisi –kondisi yang perlu diperhatikan didalam ruang kelas adalah :
1)      Ada ventilasi yang sesuai dengan ruangan kelas
2)      Sebaiknya tidak merokok
3)      Pengaturan cahaya perlu diperhatikan
4)      Cahaya yang masuk harus cukup
5)      Masuknya dari arah kiri, jangan berlawanan dengan bagian depan

b.Pemeliharaan Kebersihan dan Penataan Keindahan Ruang Kelas
Pemeliharaan Kebersihan
1)      Siswa bergiliran untuk membersihkan kelas
2)      Guru memeriksa kebersihan dan ketertiban dikelas
Penataan Keindahan
1)      Memasang hiasan dinding yang mempunyai nilai edukatif (contohnya Burung Garuda,    Teks   Proklamasi, Slogan Pendidikan, Para Pahlawan, Peta/Globe)
2)      Mengatur tempat duduk siswa, lemari, rak buku, dan semacamnya secara rapi (Untuk penempatan buku diletakkan di depan dan alat peraga di belakang)
3)      Merapikan meja guru dengan memakai taplak meja, vas bunga, dan sebagainya

2. Pengaturan Tempat Duduk
Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa memerlukaan tempat duduk yang tidak mengganggu siswa, karena kurang aman atau tidak nyaman dipakai. Jika siswa duduk berjam-jam di tempat duduk dengan keadaan tidak cukup aman dan tidak nyaman, mereka tidak akan dapat berpikir tentang pelajaran tersebut dan terus menerus merasakan "siksaan" sebagai akibat dari tempat duduk yang tidak nyaman.
            Pada prinsipnya, kriteria tempat duduk yang memadai adalah tempat duduk yang bisa menunjang kegiatan belajar mengajar, yaitu aman dan nyaman untuk dipergunakan. Di antara aspek yang perlu diperhatikan mengenai tempat duduk di antaranya adalah sebagai berikut :
a Segi Keamanan
Guru atau murid yang menempati tempat duduk tersebut benar-benar merasa aman sehingga tidak perlu khawatir akan jatuh atau celaka. Dengan demikian mereka dapat berkonsentrasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung.
b. SegiKenyamanan
Kenyamanan di sini bukan berarti tempat duduk itu harus empuk (tetapi jika mampu demikian tidak masalah), melainkan tempat duduk tersebut cukup enak digunakan, dilihat dari alas yang diduduki harus datar dan jangan sampai miring, mempunyai sandaran, tidak terlalu ke depan atau ke belakang. Perbedaan tinggi antara tempat duduk dengan tempat menulis harus memadai.
c.Segi Ukuran
Agar merasa aman dan nyaman, sebaiknya diperhatikan kondisi tempat duduk yang memenuhi hal-hal berikut :
1)      Tempat duduk guru lebih tinggi dari tempat duduk siswa, agar guru mudah mengawasi setiap kegiatan siswa.
2)      Meja dan kursi untuk siswa sebaiknya :
a)      Terpisah, agar memudahkan pengaturan untuk kegiatan lainnya.
b)      Bentuknya sederhana, kokoh, dan bahannya kuat.
c)      Ukuran daun meja adalah 100cm x 50cm (standar)
d)     Tinggi meja kurang lebih setinggi pinggul siswa.
e)      Tinggi kursi kurang lebih setinggi lutut siswa.
Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan sekarang bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk untuk beberapa orang, atau hanya untuk seorang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa ukurannya tidak terlau besar, agar mudah diubah-ubah formasi tempat duduknya sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, pada pengajaran dengan cara berdiskusi, maka formasi tempat duduk sebaiknya berbentuk melingkar. Jika pengajaran ditempuh dengan metode ceramah, tempat duduknya sebaiknya berderet memanjang kebelakang atau berbentuk farmasi tapal kuda (pola ini guru berada di tengah siswa). Pola ini dapat digunakan apabila pelajaran banyak memerlukan tanya jawab antara guru dan siswa dan lebih memudahkan saling berkomunikasi atau konsultasi. Di samping susunan meja dan kursi yang fleksibel menurut pola formasi tertentu, khususnya siswa SD/TK pada waktu mengikuti kegiatan belajar mengajar tidak terlalu terpaku duduk di kursi akan tetapi dapat juga duduk di tikar atau karpet yang bergambar atau berabjad, belajar mereka harus disesuaikan dengan kegiatan yang dilaksanakan pada waktu itu, karena siswa TK perlu lebih banyak praktik untuk melatih kecerdasan psikomotorik mereka.[2]
3.Pengaturan Alat-Alat Pengajaran adalah:[3]
a.Perpustakaan Kelas
1)      Sekolah yang maju mempunyai perpustakaannya di setiap kelas.
2)      Pengaturanya bersama-sama siswa.
b.Alat – alat peraga media pengajaran
1)      Alat peraga atau media pengajaran semestinya diletakkan di dalam kelas agar      memudahkan dalam penggunaanya.
2)      Pengaturannya bersama-sama siswa.
c.Papan tulis, kapur tulis, dll
1)      Ukurannya disesuaikan
2)      Warnanya harus kontras
3)      Penempatannya memperhatikan etestika dan terjangkau oleh semua siswa
d.Papan resensi siswa
1)      Ditempatkan di bagian depan sehingga dapat dilihat oleh semua siswa
2)      Difungsikan sebagaimana mestinya

B.  Pengaturan Lingkungan Fisik Kelas[4]
Lingkungan sebagai salah satu faktor terpenting dalam belajar mempengaruhi pendidikan. Di samping diperlukan adanya sistem pendidikan dengan tujuan pembentukan karakteristik siswa, karena proses belajar diperoleh melalui lingkungan tempat siswa berada sesuai dengan kondisi yang diinginkan. Lingkungan fisik kelas berkaitan dengan penciptaan lingkungan yang baik dengan mendesain tempat duduk siswa supaya tercipta suasana kelas yang mampu mendorong siswa belajar dengan baik.
Seorang Guru hendaknya mampu menciptakan lingkungan kelas yang membantu perkembangan peserta didik dengan teknik motivasi yang akurat serta menciptakan kontribusi iklim kelas yang sehat. Sebuah lingkungan kelas hendaknya mencerminkan kepribadian guru, perhatian dan penghargaan kepada siswa. Langkah-langkah praktis yang ditempuh dalam pembentukan lingkungan fisik kelas adalah:
1)   Lingkungan fisik kelas harus bersih dan sehat, karena kebersihan kelas berpengaruh pada kesehatan siswa.
2)   Kelas adalah tempat siswa melakukan sebagian besar kegiatannya, sehingga berpengaruh pada perkembangan peserta didik.
3)   Kelas hendaknya menjadi suatu tempat yang indah dan menyenangkan, sehingga dinding dihidupkan dengan hasil pekerjaan siswa. Karena benda didalam kelas mampu menyampaikan pesan serta menjadi bulir vocal kegiatan belajar.
4)   Tanggung jawab tentang keadan fisik kelas ditanggung bersama, sehingga siswa ikut aktif membuat keputusan mengenai dekorasi, pameran dan sebagainya.
5)   Pertimbangan tentang lingkungan fisik kelas meliputi : Penataan, dekorasi, gambar dan fenomena yang dinamis.
6)   Lingkungan fisik kelas harus mengandung unsur kesehatan yang meliputi : peredaran udara, pencahayaan dan jarak papan tulis dengan siswa. Karena terdapat hubungan yang erat antara lingkungan fisik kelas, iklim emosional dan moral seluruh siswa.

C.  Pengaturan tempat Duduk Siswa
Pada umumnya, tempat duduk siswa diatur menurut tinggi pendeknya siswa, serta diatur secara berderet, namun pada situasi  dan kondisi tertentu hal tersebut tidak berlaku. Macam-macam pengaturan tempat duduk adalah :
    1. Pengaturan tempat duduk tipe formal/berderet

Papan Tulis

 

Guru

Guru

 
 





           
           
siswa                                                                                                               siswa

            Jenis pengaturan tersebut kadang-kadang mengurangi kemampuan belajar siswa, karena membuat guru mempunyai otoritas mutlak dan membuat siswa tergantung pada guru dan tidak terjadi komunikasi kelompok.

    1. Papan Tulis


       
      Pengaturan tempat duduk tipe berkelompok

 












Pada tipe tempat duduk ini, siswa lebih mudah berkomunikasi tanpa terbatas, sehingga terjadi interaksi dan tolong-menolong antar anggota, dua unsur penting dalam tipe ini, yaitu : kepemimpinan dan kerja sama. Hal yang diperhatikan guru adalah, anggota tiap kelompok tidak lebih dari enam siswa, dengan seorang pemimpin dan posisi guru adalah sebagai pembimbing kelompok.

    1. Papan Tulis


       
      Pengaturan tempat duduk tipe tapal kuda

Guru
Guru

 
 




                                                                                                   


            Tipe tempat duduk tapal kuda menggambarkan otoritas guru dan memisahkan guru dari semua kelompok, namun tetap memberikan pengawasan pada setiap anggota kelompok. Tipe ini mempermudah konsultasi dan komunikasi antara guru dan siswa, namun formasi ini akan memakan banyak waktu ketika setiap anggota kelompok harus mempresentasikan tugas pada anggota kelompok lain atau memerlukan adanya diskusi antar anggota, karena harus mengubah formasi tempat duduk.
    1. Pengaturan tempat duduk tipe bundar dan persegi
                                                     Guru                                         
 














Guru  

Tipe meja bundar dan persegi dapat digunakan untuk format pembelajaran diskusi, pada tipe ini tidak terdapat pemimpin kelompok, dan tipe ini sangat sesuai untuk pembelajaran yang memerlukan ingatan atau praktek langsung, seperti pada pembelajaran tari atau olahraga, sehingga siswa dapat leluasa melihat guru dan langsung bisa mempraktekkan apa yang diajarkan oleh guru/pelatih.

III.             Kesimpulan

  1. Pengertian Penataan Ruang Kelas dalam Pengelolaan Kelas adalah menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan memungkinkan anak duduk berkelompok, memudahkan guru bergerak secara kuasa untuk membantu siswa dalam belajar. Yang memperhatikan hal-hal berikut: Ukuran dan bentuk kelas, bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa, jumlah siswa dalam kelas, jumlah siswa dalam setiap kelompok, jumlah kelompok dalam kelas, komposisi siswa dalam kelompok
  2. Pengaturan Lingkungan Fisik Kelas berkaitan dengan penciptaan lingkungan yang baik dengan mendesain tempat duduk siswa supaya tercipta suasana kelas yang mampu mendorong siswa belajar dengan baik.
  3. Pengaturan tempat Duduk Siswa
a)      Pengaturan tempat duduk tipe formal/berderet
b)      Pengaturan tempat duduk tipe berkelompok
c)      Pengaturan tempat duduk tipe tapal kuda
d)     Pengaturan tempat duduk tipe bundar dan persegi

IV.             Daftar Pustaka
Djamarah, Syaiful Bahri. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hernawan, Hery, Asep. 2006. Pengelolaan Kelas. Bandung: UPI PRESS.
Modul Kuliah Pengelolaan Kelas.



[1] Djamarah, Syaiful Bahri. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, hal. 227
[2] Hery Hernawan, Asep. 2006. Pengelolaan Kelas. Bandung: UPI PRESS, hal. 9  
[3] Ibid, hal. 229
[4] Modul Kuliah Pengelolaan Kelas, hal. 46-52.

Supervisi Pendidikan

PENGERTIAN SUPERVISI PENDIDIKAN

I.                   Pendahuluan

Di era globalisasi ini setiap sekolah saling berlomba-lomba untuk mendapatkan predikat sebagai Sekolah Berstandar Nasional (SSN), Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) atau Sekolah Berstandar Internasioanal (SBI). Bahkan predikat tersebut dijadikan sebagai tolak ukur kwalitas suatu sekolah sehingga dikatakan sebagai sekolah favorit.
Untuk mencapai predikat tersebut setiap aktivitas dalam dunia pendidikan memerlukan adanya koordinasi baik kecil maupun besar, karena tanpa adanya koordinsi aktivitas pendidikan tidak dapat berjalan dengan lancar. Selain koordinasi kegiatan pendidikan perlu diawasi atau disupervisi, supaya kegiatan pendidikan di suatu lembaga pendidikan dapat berjalan dengan baik, sehingga suatu sekolah bisa meraih predikat tersebut.
Dari latar belakang masalah tersebut saya mengambil beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

a.       Apakah pengertian dari supervisi pendidikan?
b.      Apakah kedudukan supervisor pendidikan itu?
c.       Apakah macam-macam dari teknik supervisi pendidikan itu?
Dari rumusan masalah tersebut terdapat beberapa tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu :

a.    Dapat dimengerti pengertian dari supervisi pendidikan.
b.    Dapat diketahui kedudukan supervisor pendidikan beserta tugasnya.
c.    Dapat diketahui macam-macam dari teknik supervisi pendidikan.






II.                Pembahasan

A.    Pengertian Supervisi Pendidikan

Menurut konsep tradisional, supervisi adalah Pekerjaan inspeksi dalam mengawasi dan menemukan kesalahan untuk diperbaiki (Snooper Vision). Sifat-sifat supervisi secara ilmiah adalah :
a.     Sistematis : dilaksanakan secara teratur, berencana dan kontinyu.
b.    Objektif : Data didapatkan berdasarkan observasi nyata dan tafsiran pribadi.
c.    Menggunakan alat pencatat untuk memberikan umpan balik dalam penilaian proses pembelajaran di kelas.[1]
Supervisi atau pengawasan pendidikan adalah Setiap gerak langkah pimpinan suatu lembaga pendidikan untuk mengkoordinasikan setiap kegiatan, situasi dan kondisi di segala bidang suatu lembaga pendidikan.
Beberapa definisi tentang supervisi adalah :
a.    Menurut P. Adams dan Frank G. Dickey
Supervisi adalah suatu program berencana yang bertujuan untuk memperbaiki pengajaran (Supervision is a planned program for the improvement of instruction).
b.    Dalam Dictionary of Education, Good Carter
Supervisi adalah segala usaha petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas pendidikan untuk memperbaiki pengajaran, perkembangan guru-guru, penyelesaian dan revisi tujuan pendidikan, bahan-bahan, metode dan penilaian pengajaran.
c.    Menurut Alexander dan Saylor
Supervisi adalah Program Inservise education dan usaha pengembangan kelompok/group secara bersama.

d.   Menurut Boardman
Supervisi adalah usaha menstimulus, mengkoordinir dan membimbing secara kontinyu pertumbuhan guru-guru sekolah secara individu dan kolektif supaya lebih mengerti dan efektif dalam mewujudkan segala fungsi pengajaran dan lebih cakap dalam berpartisipasi di masyarakat demokrasi modern.
e.    Menurut Mc. Nerney
Supervisi adalah Prosedur dalam memberikan arah dan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran.
f.     Menurut H. Burto & Leo J. Bruckner
Supervisi adalah Suatu teknik pelayanan dengan tujuan utama mempelajari dan memperbaiki faktor-faktor dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.[2]
g.    Menurut Kimball Wiles
Keberhasilan supervisi pendidikan tergantung pada kecakapan pribadi supervisor yang mencakup lima keterampilan dasar, yaitu :
1.    Keterampilan dalam hubungan-hubungan kemanusiaan.
2.    Keterampilan dalam proses kelompok.
3.    Keterampilan dalam kepemimpinan pendidikan.
4.    Keterampilan dan mengatur personalia sekolah.
5.    Keterampilan dalam evaluasi.
h.    Menurut John T. Lovel, terdapat beberapa fokus dalam supervisi pendidikan yang dapat digambarkan dalam sebuah skema,  yaitu :
1.    Perilaku supervisor.
2.    Situasi Belajar mengajar.
3.    Flowchart: Connector:  2Tujuan akhirnya untuk mengangkat harapan belajar siswa.

 


                   1                                                                                        3

                  
     Fungsi supervisi pendidikan yang mengacu pada bagian keperluan pendidikan adalah : Untuk membantu sekolah menciptakan lulusan yang berkualitas dan kuantitas baik, membantu guru bekerja profesional sesuai kondisi masyarakat setempat dan membantu sekolah bekerjasama dengan masyarakat untuk membina program pengajaran sebaik-baiknya sehingga selalu ada usaha perbaikan.
Menurut Swearingen dalam buku Supervision of Instructon – Foundation and Dimension, dikemukakan terdapat 8 fungsi supervisi, yaitu :
1.    Mengkoordinasi semua usaha sekolah.
2.    Melengkapi kepemimpinan sekolah.
3.    Memperluas pengalaman guru-guru.
4.    Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif.
5.    Memberi fasilitas dan penilaian yang terus-menerus.
6.    Menganalisis situasi belajar-mengajar.
7.    Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staff.
8.    Memberikan wawasan yang luas dan terintregasi dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.[3]
Tujuan supervisi pendidikan adalah :
1.    Membantu menciptakan lulusan yang optimal dalam kualitas dan kuantitas.
2.    Membantu guru mengembangkan pribadi, kompetensi dan sosialnya.
3.    Membantu kepala sekolah mengembangkan program yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
4.    Ikut meningkatkan kerjasama dengan masyarakat atau komite sekolah.
5.    Mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik.[4]
Sasaran supervisi pendidikan adalah :
1.    Mengembangkan kurikulum yang sedang dilaksanakan di sekolah.
2.    Meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah.
3.    Mengembangkan seluruh staff di sekolah.
Berdasarkan uraian diatas supervisi pendidikan hendaknya mengacu pada beberapa prinsip, yaitu :
1.    Prinsip Ilmiah.                         3. Prinsip Kerjasama.
2.    Prinsip Demokratis.                 4. Prinsip Konstruktif dan Kreatif.

B.     Pengertian Supervisor

Supervisor adalah seseorang yang bertugas melakukan supervisi atau pengendalian.dengan melakukan tugas sebagai berikut :
a.    Pengawasan : Bagian dari administrasi (Mencatat kegiatan di lapangan untuk di evaluasi)
b.    Pengendalian : Bagian dari manajement (Kesalahan-kesalahan di lapangan langsung diperbaiki)
c.    Supervisi : Hasil observasi pada suatu proses supervisi dianalisis, dan diperbaiki kesalahannya.
Dalam sebuah Lembaga Pendidikan / Sekolah, yang berkedudukan sebagai supervisor adalah kepala sekolah,[5] karena ia bertanggung jawab penuh terhadap sekolah, dan selaku supervisor pendidikan di sekolah ia mempunyai beberapa posisi penting, yaitu :
1.    Sebagai manajer : mengatur manajemen ketika terjadi kekacauan, kesulitan dan gejolak yang menimpa sekolah dengan tahapan :
a.    Perencanaan : Merencanakan tindakan untuk mengatasi masalah.
b.    Pengorganisasian : Mengusahakan supaya hasil perencanaan dapat berjalan.
c.    Penggerakan : Memotivasi personil untuk bekerja dengan giat dan antusias.
d.   Pengendalian : Mengendalikan proses kerja dan hasil kerja agar tidak menyimpang dari rencana semula.
Kepala Sekolah selaku manajer hendaklah menguasai tiga keterampilan, yaitu :
a.    Keterampilan konsep.
b.    Keterampilan hubungan manusia.
c.    Keterampilan teknik.
2.    Kepala sekolah sebagai administrator, meliputi :
a.    Pendidikan dan pengajaran.       d. Keuangan.
b.    Kesiswaan.                                 e. Hubungan masyarakat.
c.    Kepegawaian.                            f. Sarana dan Prasarana.
3.    Kepala sekolah sebagai motor penghubung sekolah dengan masyarakat, hendaknya memperhatikan :
a.    Budaya.                                      c. Ekonomi.
b.    Tingkat sosial.                            d. Religi.
4.    Kepala Sekolah sebagai pemimpin,  dengan menguasai faktor pendukung :
a.    Komunikasi.       c. Keteladanan.           e. Memfasilitasi.
b.    Kepribadian.      d. Tindakan.
5.    Kepala Sekolah sebagai supervisor, membina profesionalitas guru dengan mengembangkan :
a.    Pribadi Guru                              e. Keragaman kemampuan
b.    Peningkatan profesi                   f. Keragaman daerah  
c.    Proses pembelajaran                   g. Penguasaan materi
d.   Kemampuan kerjasama guru dengan masyarakat.[6]
Adapun syarat-syarat seorang supervisor adalah :
1.    Mempunyai perikemanusiaan dan solidaritas yang tinggi, dapat meneliti secara teliti dan dapat bergaul dengan baik.
2.    Dapat memelihara dan menghargai semua kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang berhubungan dengannya.
3.    Berjiwa optimis, berusaha mencari yang baik, mengharapkan yang baik dan melihat segi-segi yang baik.
4.    Bersifat jujur dan adil, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh penyimpangan-penyimpangan masyarakat.
5.    Cukup tegas dan objektif (tidak memihak).
6.    Berjiwa terbuka dan luas, sehingga lekas memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi yang baik.
7.    Tidak mudah berprasangka terhadap kesalahan seseorang.
8.    Jujur, terbuka dan penuh tanggung jawab.
9.    Cakap taktik dalam memberikan kritikan.
10.                        Sifat simpatinya tidak menimbulkan depresi / stress pada staffnya.
11.                        Sikapnya ramah, terbuka dan mudah dihubungi, sehingga siapapun yang memerlukannya tidak segan untuk menemuinya.
12.                        Bekerja dengan tekun, rajin, teliti dan menjadi teladan anggota.
13.                        Personel appearance terpelihara dengan baik, sehingga menimbulkan respect dari orang lain.
14.                        Bersikap serius, berwibawa dan disegani bukan ditakuti.[7]

C.    Teknik-teknik Supervisi

Teknik supervisi pendidikan berguna sebagai usaha untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya guru. Macam-macam teknik supervisi pendidikan adalah sebagai berikut:

1.    perkunjungan kelas
Bertujuan untuk mengetahui cara mendidik guru serta respon siswa. Macam – macam teknik ini adalah :
a.    Perkunjungan tanpa memberi tahukan terlebih dahulu atau unannounced visitation.
b.    Perkunjungan dengan memberitahukan terlebih dahulu atau announced visitation.
c.    Perkunjungan atas undangan guru atau visit upon invitation.
2.    Observasi kelas
Bertujuan untuk mengetahui situasi kegiatan belajar mengajar, macamnya:
a.    Observasi langsung / Direct Observation
b.    Observasi tidak langsung / Indirect Observation[8]
3.    Supervisi klinis
Sebuah supervisi khas dan  mendalam dengan cara melihat, mendengar, meraba dan membau, serta seorang guru mepunyai kesempatan instropeksi diri sehingga proses perbaikan bersifat kontinyu / berkelanjutan.
Adapun variasi supervisi klinis adalah :
a.    Supervisi langsung : Mengarahkan dan memberikan petunjuk kepada guru.
b.    Supervisi alternatif : Memberikan alternatif tindakan yang boleh dipilih seorang guru dalam proses pembelajaran.
c.    Supervisi kolaborasi : Adanya kerjasama guru dengan supervisor untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi
d.   Supervisi tidak langsung : Guru mencari problem solving untuk masalahnya sendiri.
e.    Supervisi kreatif : Menmgkombinasikan keempat variasi supervisi.
f.     Supervisi mengeksplorasi atau menolong diri sendiri :  Seorang guru mengkritik dan merefleksikan dirinya sendiri berdasarkan pengalaman mengajarnya.
4.    Teknik supervisi perkembangan
Supervisi dengan mengamati perkembangan seorang guru untuk diberlakukan sebuah pendekatan dalam rangka pembinaan.
5.    Supervisi direncanakan bersama
Supervisi untuk seorang guru yang menyadari kekurangan / kelemahannya sehingga guru meminta supervisor untuk membantu mencarikan jalan keluar dari permasalahannya.
6.    Supervisi sebaya
Supervisi yang dilakukan seorang guru senior kepada guru yunior, atau semi supervise, karena keduanya sama-sama guru.
7.    Supervisi memanfaatkan siswa
Supervisi dengan menggunakan beberapa siswa sebagai pemberi nilai pada cek list yang telah disiapkan oleh supervisor supaya hasil sesuai dengan keadaan asli di dalam kelas tanpa diketahui teman-teman dan guru yang bersangkutan.
8.    Supervisi dengan alat-alat elektronik
Supervisi dengan memanfaatkan alat-alat elektronik, seperti video / CC TV. Sehingga hasil yang didapatkan adalah autentik.
9.    Supervisi pertemuan informal
Supervisi dengan perbincangan dalam sebuah pertemuan yang tidak disengaja, namun hasil yang didapatkan dapat mewakili hasil supervisi kelas atau guru.
10.                        Supervisi rapat guru
Proses supervisi dalam bentuk pertemuan bersama/rapat.
11.                        Supervisi diskusi
Supervisi dalam sebuah dialog antara beberapa guru dengan satu atau beberapa supervisor, dengan tambahan : informasi pengantar, visualisasi data, tanya jawab, dan konsultasi.
12.                        Supervisi Demonstrasi
Supervisi melalui demonstrasi seorang supervisor terhadap para guru-guru tentang sebuah permasalahan.
13.                        Supervisi Pertemuan ilmiah
Supervisi berbentuk pertemuan dengan mendatangkan narasumber atau supervisor yang ahli/ professional.
14.                        Supervisi kunjungan ke sekolah
Supervisi dengan berkunjung /study banding ke sekolah / lembaga pendidikan lainnya.[9]

III.             Kesimpulan

  1. Supervisi atau pengawasan pendidikan adalah Setiap gerak langkah pimpinan suatu lembaga pendidikan dengan keterampilannya.
  2. Supervisor adalah seseorang yang bertugas melakukan supervisi atau pengendalian.dengan melakukan tugas sebagai berikut :
a.    Pengawasan
b.    Pengendalian
c. Supervisi
3.      Macam-macam teknik supervisi pendidikan adalah sebagai berikut:
1.    perkunjungan kelas                              8. Dengan alat elektronik
2.    Observasi kelas                                    9. Pertemuan formal
3.    Supervisi klinis                                    10. Rapat guru
4.    Teknik supervisi perkembangan          11. Diskusi
5.    Supervisi direncanakan bersama         12. Demonstrasi
6.    Supervisi sebaya                                  13. Pertemuan Ilmiah
7.    Supervisi memanfaatkan siswa           14. Kunjungan ke sekolah


IV.             Daftar Pustaka

Daryanto,  Administrasi Pendidikan. (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2001).
Pidarta, Made,  Supervisi Pendidikan Kontekstual (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2010).
Sahertian, Piet A, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2000).
Purwanto, M. Mgalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2002).





[1] Piet A.Sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2000), 16-17.

[2] Daryanto,  Administrasi Pendidikan. (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2001), 169-171.
[3] Piet A.Sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2000), 18-24.

[4] Made Pidarta, Supervisi Pendidikan Kontekstual (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2010), 2-5.  

[5] M. Mgalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2002), 101.
[6] Made Pidarta, Supervisi Pendidikan Kontekstual (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2010), 12 -19.
[7] Daryanto,  Administrasi Pendidikan. (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2001), 183-184.

[8] Piet A.Sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2000), 52-59.

[9] Piet A.Sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2000), 111-191.