Minggu, 03 Maret 2013

Tugas Pendidik dalam Islam


TUGAS PENDIDIK
BAB I
PENDAHULUAN
            Pendidikan adalah suatu komponen yang sangat urgen dalam sebuah kehidupan, karena tanpa adanya pendidikan seseorang tidak mungkin akan mendapatkan pengetahuan, sehingga ia ibaratkan seekor binatang,  karena bayi yang dilahirkan tidak langsung terlahir mengerti sesuatu atau menjadi ‘Alim.
            Seorang pendidik adalah seorang figur dalam dunia ilmu pengetahuan, yang mampu memberikan bimbingan dan penjelasan tentang segala sesuatu, yang bertugas sebagai “warasatul anbiya’”,  sehingga tidak mudah menjadi seorang pendidik, ia mempunya tugas dan tanggung jawab yang amat berat, bukan mendidik itu sekedar menyampaikan ilmu, ata ketika telah menjadi PNS berpikiran bagaimana untuk dapat mngembalikan modal, namun seorang pendidik mempunyai tugas - tugas yang lazim diampu karena pertanggung jawabannya akan ditagih kelak di yaumil akhir.
            Makalah ini kami sampaikan dengan tujuan sebagai acuan kita sebagai seorang pendidik, minimal pendidik untuk pribadi kita sendiri. Semoga apa yang kami sajika bermanfaat, jika ada kekurangan kami harapkan kritik dan saran anda.
Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari pendidik ?
2.      Peran apakah yang diampu oleh seorang pendidik ?
3.      Meliputi apa sajakah tugas seorang pendidik ?
4.      Apakah peran dari seorang pendidik?
TujuanPenulisan
1.      Dapat diketahui pengertian dari pendidik.
2.      Mampu memahami peranan dari seorang pendidik.
3.      Mengetahui tugas dari seorang pendidik.
4.      Memahami peran seorang pendidik.
BAB II
  1. PENGERTIAN  PENDIDIK
Pendidik dalam bahasa arab disebut :  murobbi, mu’allim atau muaddib.  مُرَبِّى- رَبَّى-ِ (pemelihara jasman dan rohani oleh orang tua pada proses membesarkan anak), مُعَـلِّمٌ (Aktifitas pada pemberian/pemindahan ilmu pengetahuan dari orang yang tahu ke orang yang tidak tahu), مُؤَدِّبٌ ( Pendidik). Menurut terminologi :
-          Moh  Fadhil al-djamil, Pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehngga terangkat derajatkemanusiaannya.
-          Marimba, Pendidik adalah orang yang memikul pertanggung jawaban sebgai pendidik.[1]
-          Sutari Imam Barnadib, Pendidik adalah orang yang sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai kedeewasaan.[2]
-          Zakiyah Daradjat, Pendidik adalah seorang individu yang memenuhi kebutuhan pengetahuan, sikap dan tingkah laku peserta didik.
-          Ahmad Tafsir, Pendidik adalah siapa saja yang bertanggug jawab terhadap perkembangan peserta didik/murid.
 Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, sehingga mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Alloh SWT, khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup hidup mandiri. Istilah yang dipakai di Negara kita adalah : guru. Namun cakupan guru hanya di lingkungan formal, sedangkan pendidik dipakai di lingkungan formal, nonformal dan informal.[3] Sedangkan guru diartikan sebagai : semua orang yang berwenang dan bertanggungjawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, disekolah dan diluar sekolah.[4]
Tujuan akhir pendidikan Islam adalah : terciptanya insan kamil (manusia yang mempunyai wajah Qur’ani/Insan dengan dimensi religius, budaya dan ilmiah).
Sedangkan jenis-jenis  pendidik itu adalah ; Alloh SWT, Nabi Muhammad SAW, Orang tua dan Guru. Alloh SWT disebut Pendidik berdasarkan “Segala puji bagi Alloh SWT rabb seluruh alam” (Al-fatihah :1)[5],
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ  (الفاتحة :1)
“Dan (Alloh SWT) ‘allama (mengabarkan segala macam nama kepada Adam as”) (Al-Baqoroh : 31),
وَعَلَّمَ آدَمَ  الأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى المَلَئِكَةَ فَقاَلَ أَنْبِؤُنىِ بِأَسْمَاءِ هَؤُلآءِ إِنْ كُنْـتُمْ صَادِقِيْنَ (البقرة:31)
Tafsir :
-Wa ‘allama aadama asmaa-a kullaha =  Dan Alloh mengajarkan Adam segala macam nama. Ayat ini menerangkan bahwasanya Alloh SWT telah mengajarkan kepada Nabi Adam as segala macam nama sesuatu untuk mengenali pemilik nama tersebut sebagai bukti kepada para malaikat bahwa ada hikmah dibalik penciptaan Adam as sebagai khalifah di bumi, karena menurut malaikat manusia hanyalah penyebab kerusakan di muka bumi, padahal Alloh SWT lebih mengetahui segala sesuatu.  Sedangkan ilmu yang dimaksud dalam ayat ini adalah : memahami segala sesuatu yang diketahui.
- Tsumma ‘ara-dhahum ‘alal malaa-ikati = Kemudian mengajukan mereka (yang punya nama) kepada malaikat. Penafsiran ayat ini adalah : Setelah Alloh mengajari Adam seluruh nama segala macam hal, kemudian Alloh mengilhami Adam dengan nama-nama segala yang ada, kemudian Alloh menggambarkan bentuk segala makhluk dan memberinya nama. Yang selanjutnya memperlihatkannya kepada para malaikat dengan Ilham Alloh. Hikmah dari peristiwa ini adalah bahwa Alloh memuliakan Adam da mengutamakannya, sehingga malaikat tidak membanggakandiri dengan ilmu dan ma’rifatnya, serta menunjukkan pembendaharaan ilmu Alloh yang Maha Luas dengan perantara lisan seorang hamba tag dikehendaki-Nya. Selain hal tersebut, diharapkan malaikat mampu mengetahui bahwasanya Adam mempunyai kemampuan untk memegang ke khalifahan di bumi dan karakter sebagai penumpah darah seperti yang dikhawatirkan  tidak akan menghilangkan hikmah dari tindakan Alloh SWT.
- Fa qaala ambi-uunibi asmaa-I haaulaa-I = Alloh berfirman : Terangkanlah kepada Ku nama-nama mereka itu. Tafsir ayat ini adalah : Bahwa Alloh memerintahkan malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda yang belum mereka ketahui, sehingga dapat memberikan pengertian tentang kelemahan mereka, karena mereka tidak mengetahuinya. Serta  menunjukkan bahwa tanggung jawab menjadi kholifah di bumi hendaknya mampu menata dan mengelola segala urusan untuk menegakkan keadilan yang dilakukan dengan pengertian atas tingkat, adat, kebiasaan dan mengetahui siapa yang ahli dalam menduduki jabatan itu.
- In kuntum shadiqiin = Jika kamu sekalian benar. Penafsiran ayat ini adalah : mengharuskan bagi seseorang yang menyanggah suatu pendapat, hendaknya mengajukan argument (hujjah) dan penjelasan yng bisa memperkuat sanggahan, jika memang ia adalah seseorang yang benar.[6]
-          Konsep norma : Tema norma ayat ini adalah : tentang pengajarkan Alloh SWT
-          Kata kunci : عَلَّمَ
-          Penafsiran : Ayat ini menerangkan tentang cara pengajaran Alloh terhadap makhluknya.
-          Analisis normative :
a-      Awal ayat menerangkan tentang pengajaran Alloh SWT terhadap Nabi Adam atas seluruh nama segala hal.
b-      Penjelasan selanjutnya tentang Penunjukan Alloh ilmu Nabi Adam kepada para malaikat untuk menunjukkan kekuasaan dan hikmah seluruh ciptaan Nya, penjelasan ini adalah kelanjutan dari pengajaran Alloh kepada Nabi Adam as.
c-      Ayat ini mengajarkan kita untuk merenungkan hikmah segala sesuatu dan hendaknya kita tidak membanggakan diri, karena kita hanyalah makhluk Nya.
d-     Kalimat ‘Allama pada ayat ini menerangkan bahwasanya Alloh pun juga seorang pendidik, karena Alloh telah mengajarkan kepada Adam nama segala hal.
Dan hadits Nabi “Tuhan ku telah mendidik ku sehingga aku mempunyai pendidikan yang baik”. Nabi Muhammad SAW disebut pendidik karena Nabi mendidik lewat penyampaian firman Alloh SWT dan hadits-hadits Nabi. [7]
Orang tua disebut sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga berdasarkan QS. Luqman : 12-19, “ Sebagai pendidik kudrati/yang diciptakan dengan qudratnya menjadi pendidik”.[8]
Sedangkan guru adalah Pendidik di lembaga sekolah serta sesosok  figur  dari seorang pemimpin, serta arsitektur pembentuk jiwa dan watak anak didik. Pendidik berkuasa membentuk dan membangun kepribadian dan intelektual peserta didik sebaik-baiknya, berdasarkan QS. An-nisa’ ayat 58.
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ  اَنْ تُؤَدُّوالآمَانَاتِ اِلىَ  اَهْلِهَا وَاِذَاحَكَمْتُمْ بَيـْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْابِالعَدْلِ اِنَّ اللهَ  نِعِمَّا يَـعِظُكُمْ بِـهِ  اِنَّ اللهَ كَانَ  سَمِيْعًابَـصِيْرًا (النساء : 58)
Artinya : Sungguh, Alloh  menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menermanya, dan apabila kamu  metapkanhukum diantara manusia hendaknya kamu menetapkan dengan adil. Sungguh Alloh sebaik-baik yang member pengajaran kepadamu . Sungguh Alloh maha mendengar, Maha Melihat.[9]
B.     PERAN PENDIDIK
Peran pendidik tidak akan pernah tergantikan oleh tekhnologi (Radio, tape, internet atau komputer), karena unsur manusiawi dalam pendidikan tidak dapat dilakukan oleh tekhnologi, yaitu : sikap, sitem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan keteladanan. Selain hal tersebut pendidik juga mempunyai tanggung jawab moral untuk digugu dan ditiru (sebagai pedoman dan suri tauladan).[10]
Menurut an-nah wi : Guru hendaknya mencontoh Rasulullah SAW dalam mengkaji dan mengembangkan ilmu Illahi, yang mana tugas tesebut meliputi tugas pengajaran dan pensucian. Disebutkan dalam firman Nya :
مَا كَان َلِبَـشَرٍ اَنْ يُؤْتِيَهُ اللهُ الكِتَابَ وَالحُكْمَ وَالنُّـبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنـُوْاعِبَادًالِى مِنْ دُوْنِ اللهِ وَلَكِنْ كُوْنُوْارَبَّانِيِّنَ بِمَا كُنْتُمْ   تُعَلِّمُوْنَ الكِتَابَ وَ بِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ (ال عمران : 79)
Artinya : Tidak seyogyanya  bagi seorang manusia yang telah diberi al-kitab oleh Alloh, hukum dan nubuwwah (kenabian), kemudian mengatakan kepada manusia : Jadilah kamu hamba-hambaku, selain (menyembah) Alloh,” Akan tetapi (Nabi itu berkata) : “Hendaklah kamu menjadi orang yang teguh pendirian kepada agama dan tetap menaati Alloh, karena kamu telah mengajarkan kitab itu dan kamu sendiri juga mempelajarinya.
Tafsir :
-          Maa kaana libasyarin ay yu’tiyahul kitaaba wal hukma wan nubuwwata tsumma yaquulu lin naasi kuunuu ‘ibadal lii min duu nillahi = Tidak seyogyanya bagi seorang manusia yang telah diberi alkitab oleh Alloh, hukum dan Nubuwwah (Kenabian), kemudian mengatakan kepada manusia : “Jadilah kamu hamba-hambaku, selain Alloh”. Maksud dari ayat ini adalah : Seseorang yang telah dianugerahi kitab oleh Alloh SWT,  rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah agama serta kenabian, tidak seharusnya menyeru manusia untuk menyembah dirinya (musyrik), namun seharusnya dia menyeru manusia untuk mempelajari syari’at-syari’at islam.
-          Maksud syirik dalam pernyataan ayat selain Aloh SWT  adalah tidak mengesakan Alloh SWT dalam ibadah, atau juga menuhankan yang lain. Adapun ibadah yag benar adalah yang dijalankan dengan tulus ikhlas hanya kepaada Alloh SWT, tidak dicemari oleh kepercyaan yang menempatkan sesuatu setara dengan Alloh SWT. Selain hal tersebut, ayat ini menerangkan bahwasanya orang yang mengadaakan perantara antara dia dengan Alloh SWT dalam beribadah, seperti dalam do’a, sama artinya dengan menyembah perantara itu, bukan menyembah Alloh SWT. Adanya perantara berlawanan dengan ikhlas kepada Alloh SWT, atau beribadah langsung kepada Alloh SWT. Dengan hilangnya keikhlasan, hilang pula sebuah ibadah.
-          Walaakin kuunu rubbaniyyina bi maa kuntum tu’allimuunal kitaaba wa bimaa kuntum tad rusuun = Akan tetapi (nabi itu berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang yang teguh berpegang kepada agama  dan tetap menaati Alloh, karena kamu telah mengajarkan Kitab itu dan kamu sendiri juga mempelajarinya.” Maksud dari ayat ini adalah: Bahwa para rasullulahnya menunjukkan jalan yang benar bagi manusia serta bertugas mengajarkan al-kitab dan mempelajarinya. Karena dengan memahami dan mengamalkan isi al-kitab : seorang manusia akan menjad sesosok yang rabbani (hidup menurut aturan Tuhan). Dan ilmu yang benar menurut  ayat ini adalah ilmu yang mendorong manusia untuk beramal sholeh.[11]
-          Penegaan Alloh dalam ayat ini adalah : tidak wajar bagi seseorang yang dianugerahi kitab Alloh SWT dan pelajaran tetang agama sehingga diangkat menjadi Nabi, mengajak umatnyamenyembah dirinya sendiri dan syirik terhadap ALloh SWT. Karena Nabi adalaha seseorang yang diberi ketamaan  dan menyuruh manusia agar bertaqwa kepada Alloh SWT serta mengajarkan Al-kitab dan mempelajarinya. Seperti Firman Alloh SWT:
قُلِ اللهُ اعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِيْنىِ (الزّمر : 329)
-          Artinya : Katakanlah : “Hanya Alloh saja yang aku sembah dengan memurnikan kataatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.[12]
-          Konsep norma : Tema norma ayat ini adalah : tentang pengajarkan kitab
-          Kata kunci : تُعَلِّمُوْنَ الكِتَابَ   
-          Penafsiran : Ayat ini menerangkan tentang peran seseorang pendidik adalah mengajarkan kitab Alloh (Al-Qur’an) serta syariat-syari’at yang terkandung di dalamnya, sehingga manusia menjadi hamba yang Rabbani (menurut aturan Tuhan).
-          Analisis normative :
a-         Awal ayat menerangkan tentang pemberian kitab, hukum dan nubuwwah/kenabian kepada seorang rasul/utusan.
b-        Penjelasan selanjutnya tentang pengkajian dan pengembangan ilmu Ilahi yang merupakan kelanjutan dari pemberian kitab,sebagai bentuk dari hikmah pemberian kitab.
c-         Rasul menyeru manusia ke jalan yang lurus sesuai syari’at Islam.
d-        Kalimat tu’allimu/mengajarkan dapat dijadikan sebagai Pedoman pendidikan bagi seorang pendidik, bahwa pendidikan islam bertujuan untuk pembentukan hamba yang Rabbani/menurut aturan Tuhan, mengEsakan Alloh dan tidak menyekutukan Nyaa dengan apapun.
Tugas pengajaran Rosulullah SAW,meliputi pengajaran kitab  dan hikmah kepada manusia untuk mensucikan dan mengembangkan jiwa peserta didik, disini seorang pendidik menyampaikan pengetahuaan dan pengalaman yang diterjemahkan kedalam tingkah laku di kehidupan. Menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat penyebaran misi iman, islam dan insan dalam kekuatan rohani pokok yg dikembangkan dalam nilai-nilai agama dan moral serta mengenal Alloh SWT dalam artian luas serta memahami risalah yang dibawa Rasululloh SAW. Adapun tugas pensucian meliputi : pengembangan dan membersihkan jiwa peserta didik supaya dapat mendekatkan diri kepada Alloh SAW, mejauhkan dari keburukannya dan menjaganya supaya tetap berada dalam fitrahnya.
Tanggung jawab pendidik adalah :
-          Menurut Abd al-Rahman al-Nahwi adalah mendidik individu untuk beriman  kepada Alloh SWT dan melaksanakan syari’at Nya, mendidik beramal sholeh, saling menasehati, menegakkan kebenaran dan atabah dalam kesulitan.
-          Menurut Ibnu Umar ra, berkata : rasulullah SAW bersabda, “Masing-masing kamu adalah pengembala dan masing-masing bertanggung jawab atas gembalanya, sedangkan pemimpin adalah pengembala, suami adalah pengembala terhadap anggota keluarganya dan istri adalah pengembala  di tenggah-tengah rumah tangga suaminya dan terhadap anaknya, setiap orang diantara kalian adalah pengembala, dan masing-masing bertanggung jawab atas apa yang digembalakannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)[13]
  1. TUGAS PENDIDIK
Pendidik dalam islam bertanggung jawab terhadap  perkembangan peserta didik dalam mengembangkan potensinya dalam pencapaian tujuan dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Tugas seorang pendidik adalah mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembagan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.Pendidik hendaknya mendidik dan melatih peserta didik dan berkedudukan sebagai orag tua kedua dalam jangka waktu tertentu.
Di indonesia pendidik dikenal dengan guru, yaitu seseorang yang digugu dan ditiru atau dipercaya dan diikuti, karena guru hendaknya memiliki seperangkat ilmu yang memadai yang disertiai wawasan dan pandangan yang luas dalam kehidupan, selain hal tersebut juga berkepribadian yang utuh dalam segala tindak tanduk karena dijadikan sebagai panutan dan suri tauladan.[14]
Tugas guru adalah sebagai Warasatul anbiya’ : Misi rahmatan lil ‘alamin untuk mengajak manusia mematuhi segala aturan agama supaya selamat dunia dan akhirat. Firman Alloh berkaitan dengan hal ini adalah :
رَبّـَنَا وَابْعَثْ فِـيْهِمْ رَسُـوْلًا مِـنْهُمْ يَتْلُوْاعَلَيْهِمْ اَيَااتِـكَ وَيُـعَلِّمُهُـم ُاالكِتـاَبَ وَالحِكْمَةَ وَيُزَكِّـهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيْزُ الحَكِيْمُ (البقرة :129)
Artinya : “Wahai Tuhan kami, Bangkitkanlah dari kalangan anak kami seorang rasul, yang membacakan kepada mereka tentang ayat-ayat Mu, dan mengajari mereka tentang kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.
-          Rabbana wab’atsfii him rasuulam minhum =Wahai Tuhan kami, bangkitkan dari kalangan anak kami seorang rasul. Dalam ayat ini Nabi Ibrahim dan Ismail memohon agar Alloh membangkitkan seorang Rasul dari keturuan Ismail yang berserah diri kepada Alloh SWT, akhirnya permohonan  ini terkabul dengan diutusnya Khatamul Anbiya’ yaitu Nabi Muhammad SAW.Untuk seluruh umat manusia.
-          Yatluu ‘Alaihim aayatika = Yang membacakan kepada mereka tentang ayat-ayat Mu. Maksud ayat ini adalah : Seorang rasul yang menyeru manusia untuk mengimani ayat-ayat yang mengandung penjelasan tentang tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah atas alam semesta ini, serta mengimani ayat-ayat yang menjelaskan bahwasanya kelak manusia akan dibangkitkan kembali untuk meerima pembalasan atas amal perbuatannya selama di dunia. Segala hal ini merupakan pelajaran bagi semua orang yang diberi bimbingan dan petunjuk oleh Alloh SWT menuju kebajikan dan kebahagiaan.
-          Wa yu’allimuhumul kitaaba wal khikmata = Dan mengajari mereka tentang Kitab dan hikmah. Ayat ini menerangkan bahwasanya tuugas seorang rasul adalah mengajarkan manusia tentang a-qur’an serta rahasia-rahasia didalamnya, da menjelaskan maksud syari’ah dengan tauladan melalui budi dan pekertinya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
-          Wa Yuzakkihm = Serta menyucikan mereka. Maksud ayat tersebut adalah supaya seorang rasul mampu menyucikan jiwa-jiwa manusia dari perilaku syirik manusia terhadap segala sesuatu, sehingga akan terbentuklah aturan-aturan bagi masyarakat. Selain hal tersebut : Untuk membiasakan melaksanakan amalan kebajikan yag akan menumbuhkan kemampuan (malakah) sekaligus mendatangkan keridhaan illahi.
-          Innaka antal ‘azzul hakim = Sesungguhnya Engkulah Tuhan yang Maha Perkasa lag Maha Bijaksana. Maksud ayat ini adalah Alloh SWT adalah dzat yang Maha Perkasa, Maha Kuat, tidak terkalahkan dan Maha Bijaksana dalam segala hal terhadap seluruh hamba-hambanya dan Alloh tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hikmah dan kemaslahatan umat.
-        Nabi Ibrahim pun menutup doa’a beliau dengan memuji Asma Alloh SAW serta menyebutkan sifat-sifat Nya yang sesuai dengan isi do’a beliau. Yaitu : Al- Aziz/MahaPerkasa, dan kehendak Nya tidak bisa ditolak oleh siapa pun, Al-Hakim/Maha Bijaksana, Yang melaksaanakan sesuatu dengan kebijaksanaan, sehingga tidak ada seorangpun yang membantah hukum Nya.[15]
-        Sifat-sifat rasl yang diharapkan Nabi Ibrahim dan Ismail adalah :
1.      Membacakan ayat-ayat Nya sebagai petunjuk dan pelajaran bagi seluruh umat, yang mana ayat itu mengandung peng Esaan alloh SWT, serta menyampaikan adanya hari pembalasa atas segala amal perbuatan.
2.      Rasul hendaknya mengajarkan kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (mengetahui rahasia-rahasia, faedah-faedah, hokum-hukum syarat dan maksud serta tujuan pengutusan rasul demi penempuhan jalan yang lurus.[16]
-          Konsep norma : Tema norma ayat ini adalah : tentang  Tugas seorang Rasl/Utusan.
-          Kata kunci : وَابْعَثْ فِـيْهِمْ رَسُـوْلًا   
-          Penafsiran : Ayat ini menerangkan tentang peran seseorang Rasul adalah Mengajak manusia  mengikuti syariat agama dengan menyampaikan maksud dari kitab Alloh (Al-Qur’an) dan mengajarkan hikmah serta pensucian diri demi keselamatan hidup dunia dan akhirat.
-          Analisis normative :
a-         Awal ayat menerangkan tentang Do’a  Nabi Ibrahim dan Ismail yang mengharapkan turunnya seorang rasul/utusan yang berserah diri kepda Alloh SWT.
b-        Penjelasan selanjutnya tentang perintah untuk betauhid/mengesakan Alloh SWT serta balasan bagi setiap amal perbuatan manusia, yang merupakan sifat-sifat dari seorang rasul yang diharapkan.
c-         Rasul telah menjadi suri tauladan manusia dalam segala hal, baik ucapan dan perbuatan sehingga pantas menjadi panutan dan teladan.
d-        Kalimat wab’ats fiihim Rasulan menjelaskan tentang kriteria seorang rasul/utusan, sehingga seorang pendidik yang menjadi warasatul Anbiya’ hendaknya dapat berlaku seperti halnya rasul, seingga keduanya sama-sama menjad suri tauladan dalam ucapan dan perbuatan.
-          Tugas utama pendidik adalah: menyempurnakan, membersihkan serta mensucikan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Alloh SWT.
Tugas Khusus pendidik adalah :
-          Sebagai pengajar (instruksional) merencanakan program pengajaran. Pada tugas ini seorang pendidik merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun yang diakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program usai dilakukan.
-          Pendidik (Edukator) mengarahkan ke tingkat kedewasaan menuju kepribadian insan kamil, seiring dengan tujuan Alloh SWT menciptakannya.
-          Pemimpin (Managerial) memimpin dan mengendalikan diri sendiri,peserta didik serta masyarakat yang terkait, terhadap masalah yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan.[17]
Seorang pendidik akan mampu mengerjakan tugasnya dengan baik jika ia mempunyai kompetensi keguruan. Karena kompetensi tersebut dapat dijadikan tolak ukur bagi profesionalitas serta tanggung jawabnya. Macam-macam kompetensi adalah :
-          Kompetensi pendidik tentang kepribadian adalah :
1-      Mengenal dan mengatur harkat dan potensi setiap peserta didik atau murid.
2-      Membina suasana interaksi belajar mengajar.
3-      Membina perasaan saling menghormati, bertanggung jawab dn saling mempercayai.
-          Kompetensi pendidik terhadap penguasaan atas bahan pengajaran:
1-      Menguraikan materi pelajaran dalam bentuk komponen-komponen dan informasi -informasi yang sebenarnya.
2-      Menyusun komponen pelajaran untuk memudahkan penerimaan pelajaran oleh peserta didik.
-          Kompetensi dalam cara-cara mengajar  :
1-      Menyusun program pelajaran dalam satuan waktu (semester).
2-      Mengunakan media pendidikan (alat peraga).
3-      Mengembangkan kombinasi dan variasi dalam metode pembelajaran.
-          Fungsi Guru adalah :
a-      Tugas pengajaran / sebagai pengajar
-          Tugas tradisional adalah mengajar
-          Membina perkembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan
b-      Tugas bimbingan / sebagai pembimbing dan pemberi bimbingan
-          Membimbing / sebagai pembimbing dan pemberi bimbingan
c-      Tugas administrasi
-          Pengelola kelas (manajer) interaksi belajar-mengajar
-          Membantu perkembangan murid sebagai individu dan kelompok
-          Memelihara kondisi kerja dan belajar yang sebak-baiknya di kelas maupun di luar kelas
-          Membina suasana keagamaan, kerja sama, rasa persatuan dan perasaan puas murid terhadap penyampaian materi
d-     Tugas mengajar
-          Memahami kurikulum pengajaran
-          Menyusun materi dari sumber dan buku penunjang
-          Menggunakan media pendidikan / alat peraga materi
-          Prosedur pengajaran dalam satuan waktu
-          Program pengajaran sesuai jadwal yang telah ditentuka
-          Melakukan evaluasi semua materi pengajaran
-          Bekerjasama dengan guru-guru bidang study lain dalam pengentegrasian pengajaran
-          Melaksanakan praktek diluar kelas
e-      Tugas Bimbingan
a-      Menentukan murid-murid yang akan diberi bimbingan
-          Mengumpulkan data
-          Mengelompokkan murid berdasarkan permasalahan
-          Meneliti murid yang perlu bimbingan khusus
-          Memperkirakan kesuitan dan permasalahan murid
-          Pengorganisasian penyelenggaraan bimbingan
b-      Melakukan pemilihan tekhnik-tekhnik bimbingan dan penyuluhan
-          Tekhnik yang sesuai                      -  Tekhnik dilaksanakan
-          Tekhnik paling tepat                     - Tekhnik dengan prosedur mudah
-          Tekhnik dengan hasil terbaik

f-       Tugas Penyuluhan
-          Peserta didik atau murid yang tersolasi/mengisolir diri
-          Peserta didik atau murid dengan harga diri rendah
-          Peserta didik atau murid dengan kesukaran bergaul
-          Peserta didik atau murid tanpa motif belajar
-          Peserta didik atau murid tanpa konsentrasi belajar
-          Peserta didik atau murid tanpa minat pengajaran agama
-          Peserta didik atau murid dengan masalah sikap keagamaan
g-      Tugas Administrasi
a-      Peran kepemimpinan
-           Sebagai pemimpin yang berkuasa menentukan kebijaksanaan untuk kemaslahatan.
-          Sebagai pemimpin yang menjalankan sesuatu sesuai consensus bersama berdasarkan diskusi, ekspermen, serta secara demokratis.
-          Sebagai pemimpin yang menjadi tauladan sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama
b-      Pengelolaan interaksi belajar-mengajar
-          Tahap-tahap kegiatan ;
1-      Perencanaan (Planing)
2-      Pengorganisasian (Organizing)
3-      Pengarahan (Direecting)
4-      Pengkoordinasian (Coordinating)
5-      Pengawasan (Contoling)[18]
  1. PRINSIP KEGURUAN
1-      Keguruan dan kesediaan untuk mengajar seperti memerhatikan kesediaan, kemampuan, pertumbuhan dan perbedaan peserta didik
2-      Membangkitkan gairah peserta didik
3-      Menumbuhkan bakat dan sikap peserta didik yang baik
4-      Mengatur proses belajar mengajar yang baik
5-      Memperhatikan perubahan-perubahan yang mempengaruhi proses mengajar
6-      Adanya hubungan manusiawi dalam proses belajar-mengajar
Karakteristik tugas peserta didik dalam pendidikan islam :
a-      Ustadz : Berkomitmen dengan prfesionalitas yang melekat pada dirinya dalam sikap dan edukatif serta komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja dan sikap continous improvement
b-      Mu’alim : Yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkan serta mnjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya sekaligus melakukan transfer ilmu penginternalisasi serta impementasi (amaliah)
c-      Murobbi : Yang menyapkan peesrta didik untuk berinteraksi serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagidirinya, masyarakat dan alam semesta
d-     Mursyid : mampu menjadi sentral identifikasi diri / pusat anutan, teladan dan konsultan buat peserta didik
e-      Mudarris : Kepekaan intelektual dan informasi daam memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan dan berusaha mencerdaskan pserta didik dalam melatih peserta didik sesuai minat dan bakat
f-       Muaddib : Yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan

KESIMPULAN
1-      Pendidik adalah : orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, sehingga mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Alloh SWT, khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup hidup mandiri.
2-      Peran Pendidik adalah : Seorang pendidik menyampaikan pengetahuaan dan pengalaman yang diterjemahkan kedalam tingkah laku dalam kehidupan. Menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat penyebaran misi iman, islam dan insan dalam kekuatan rohani pokok yg dikembangkan dalam nilai-nilai agama dan moral serta mengenal Alloh SWT dalam artian luas serta memahami risalah yang dibawa Rasululloh SAW.
3-      Tugas pendidik adalah : sebagai Warasatul anbiya’ : Misi rahmatan lil ‘alamin untuk mengajak manusia mematuhi segala aturan agama supaya selamat dunia dan akhirat.
4-      Prinsip Keguruan adalah :
-          mengajar seperti memerhatikan kesediaan, kemampuan, pertumbuhan dan perbedaan peserta didik
-          Membangkitkan gairah peserta didik
-           bakat dan sikap peserta didik yang baik
-          Mengatur proses belajar mengajar yang baik
-          Memperhatikan perubahan-perubahan yang mempengaruhi proses mengajar
-          Adanya hubungan manusiawi dalam proses belajar-mengajar


DAFTAR PUSTAKA

Al-Qr’an dan Terjemahanya, (Kudus, Menara Kudus,2006)
Al-Razi dalam Dahlan, Muhammad,  Landasan dan Tujuan Pendidikan menurut Al-Qur’an serta Implementasinya, (Bandung : CV. Diponegoro, 1991)
Bahri DJamarah, Syaiful, Guru dan Anak Didik, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000)
Darajat, Zakiyah, Metode Khusus Pengajaran Agama Islam,(Jakarta : Bumi Aksara,1995)
Fadhil al-Jamali, Muhammad, Tarbiyah al-Insan al-Jadid, ( Al-Tunisiyah : Al-syarikah,tt)
Imam Barnadib, Sutari, Pengantar Ilmu pendidikan Sistematis, (Yogyakarta : Andi Ofset, 1993) Uhbiyati, Nur,  Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 1997)
Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Teungku, Tafsir Al-Qur’anl MAjid An-Nur, (Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra, 1987)
Mujib, Abdul dan Mudzakkir, Jusuf, Ilmu pendidikan islam, (Jakarta : Fajar Interpratama offset, 2008)
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta : Kalam Mulia,2006)
Roestiyah NK, Masalah-masalah Ilmu Keguruan, (Jakarta : Bina Aksara, 1982)
Sa’I al-khin, Mustafa, dkk, Madzhab al-Muttaqin Syah Riadh al-Shaihin, (Beirut : Muassah al-Risalah, 1977)
Sonhadji, Dahlan, Zainal dan Prawiro, Chamim , Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Jakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf, tt)



[1] Muhammad Fadhil al-Jamali, Tarbiyah al-Insan al-Jadid, ( Al-Tunisiyah : Al-syarikah,tt), h. 74
[2] Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu pendidikan Sistematis, (Yogyakarta : Andi Ofset, 1993), h. 61
[3] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 1997), h. 71
[4] Syaiful Bahri DJamarah, Guru dan Anak Didik, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000), h. 32
[5] Al-Qr’an dan Terjemahanya, (Kudus, Menara Kudus,2006),h. 1
[6] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy,Tafsir Al-Qur’anl MAjid An-Nur, (Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra, 1987), h. 75-79

[7] Al-Razi dalam Muhammad Dahlan, Landasan dan Tujuan Pendidikan menurut Al-Qur’an serta Implementasinya, (Bandung : CV. Diponegoro, 1991), h. 43
[8] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta : Kalam Mulia,2006),h. 55-76
[9] Al-Qur’an dan Terjemahannya, ………. h, 87
[10] Ilmu Pendidikan Islam, …………..h, 55-76
[11] Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur, ………., h. 623-625
[12] Sonhadji, Zainal Dahlan dan Chamim Prawiro, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Jakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf, tt),h. 616-618
[13] Musthafa Sa’I al-khin,dkk, Madzhab al-Muttaqin Syah Riadh al-Shaihin, (Beirut : Muassah al-Risalah, 1977), h. 298
[14] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir,Ilmu pendidikan islam, (Jakarta : Fajar Interpratama offset, 2008), h. 90-92
[15] Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur, ………., h. 206-210
[16] Al-Qur’an dan Tafsirnya, ………….., h. 232-235
[17] Roestiyah NK, Masalah-masalah Ilmu Keguruan, (Jakarta : Bina Aksara, 1982), h. 86
[18] Zakiah Darajat, Metode Khusus Pengajaran Agama Islam,(Jakarta : Bumi Aksara,1995), h, 262-288

Mahabbah dan Ma'rifah


MAHABBAH DAN MA'RIFAH
BAB I
PENDAHULUAN
  1. LATAR BELAKANG

“Mahabbah” adalah cinta, atau cinta yang luhur  kepada Tuhan yang suci dan tanpa syarat,tahapan menumbuhkan cinta kepada Allah, yaitu: keikhlasan, perenungan, pelatihan spiritual, interaksi diri terhadap kematian, sehingga tahap cinta adalah tahap tertinggi oleh seorang ahli yang menyelaminya. Didalamnya kepuasan hati (ridho), kerinduan (syauq) dan keintiman (uns).
Sedangkan Ma’rifah ialah ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Dalam kajian ilmu tasawuf “Ma’rifat” adalah mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan”. Menurut shufi jalan untuk memperoleh ma’rifah ialah dengan membersihkan jiwanya serta menempuh pendidikan shufi yang mereka namakan maqamat, seperti hidup zuhud, ibadah dan barulah tercapai ma’rifat.  
Dalam makalah ini kita akan membahas tentang Mahabbah dan Ma’rifah beserta tujuan, kedudukan, paham, tokoh sufi,serta mahabah dan ma’rifah dalam pandangan al-Qur’an dan al hadits, Maka jika ada kesalahan yang sekiranya di luar kesadaran, kami siap menerima kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sekalian.
  1. RUMUSAN MASALAH
A ) Apakah pengertian dari Mahabbah dan Ma’rifah ?
B ) Apakah tujuan dan kedudukan Mahabbah dan Ma’rifah menurut paham   tokoh sufi ?
C ) Bagaimanakah Mahabbah dan Ma’rifah menurut pandangan al-Qur’an dan al- Hadits ?


BAB II
                                                    PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MAHABBAH DAN MA’RIFAH
Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan yang mendalam. Dalam Mu'jam al-Fal-safi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Al-Mahabbah dapat pula berarti al-wadud, yakni yang sangat kasih atau penyayang. Pengertian Mahabbah adalah cinta yang luhur, suci dan tanpa syarat kepada Allah[1]. Setelah membentuk kepribadian manusia maka mahabbah akan mempengaruhi kualitas keimanan seseorang. Hal ini sesuai dengan firman-Nya: Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah 165).
Pengertian Ma’rifah dari segi bahasa berasal dari kata ‘arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman, serta pengetahuan tentang rahasia hakikat agama. Ma’rifat adalah pengetahuan yang objeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir, tetapi bathin dengan mengetahui rahasianya. Para sufi mengatakan perihal Ma’rifat adalah :
1. Kalau mata dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanyalah Allah.
2. Makrifat adalah cermin, yang mana yang dilihatnya hanyalah Allah.
3. Yang dilihat orang arif saat tidur dan bangun hanyalah Allah.
4. Sekiranya Ma’rifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihatnya akan mati karena tidak tahan melihat kecantikan dan bentuk keindahannya.
Dikemukakan al-Kalazabi, ma’rifat datang sesudah mahabbah, karena ma’rifat lebih mengacu pada pengetahuan sedangkan mahabbah menggambarkan kecintaan. Disebutkan dalam sebuah Hadits Qudsi :
كنت خزينة خا فية احببت ان اعرف فخلقت الخلق فتعر فت اليهم فعرفونى"
“Aku (Allah) adalah perbendaharaan yang tersembunyi (Ghaib), Aku ingin memperkenalkan siapa Aku, maka aku ciptakan mahluk. Maka Aku memperkenalkan DiriKu kepada mereka. Maka mereka mengenal Aku” (Hadits Qudsi)
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah puncak dari seluruh maqam spiritual dengan derajad/level yang tinggi. "(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”. Ma’rifat merupakan karunia pemberian langsung dari Allah, maka ia sekali-kali tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya amal kebaikan. Ma’rifat adalah anugerah Allah yang didasari kasih Tuhan kepada hamba-Nya. Adapun amal ibadah sebagai persembahan hamba kepada Tuhannya.
Adapun cara-cara untuk dapat menuju Mahabbah dan Ma’rifat adalah :
1. Tobat, baik dari dosa besar maupun dosa kecil
2. Zuhud, yaitu mengasingkan diri dari dunia ramai
3. Wara (sufi), mencoba meninggalkan segala yang di dalamnya terdapat shubhat
4. Faqir, hidup sebagai orang fakir
5. Sabar, dalam menghadapi segala macam cobaan
6. Tawakkal, menyeru sebulat-bulatnya pada keputusan Tuhan
7. Ridha, merasa senang menerima segala takdir.
B. TUJUAN DAN KEDUDUKAN MAHABBAH DAN MA’RIFAH
Al-mahabbah dapat berarti kecenderungan pada sesuatu yang sedang berjalan, dengan tujuan untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual, seperti cintanya seseorang yang kasmaran pada sesuatu yang dicintainya. Mahabbah pada tingkat selanjutnya berarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran Yang Mutlak, yaitu cinta kepada Tuhan. Kata mahabbah selanjutnya digunakan untuk menunjukkan suatu paham atau aliran dalam tasawuf. Mahabbah obyeknya lebih ditujukan pada Tuhan. Jadi, Mahabbah artinya kecintaan yang mendalam secara ruhiah pada Tuhan.
Ma'rifah adalah pengetahuan yang obyeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir, tetapi lebih mendalam terhadap batinnya dengan mengetahui rahasianya. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahui hakikat ketuhanan yang satu, dan segala yang maujud berasal dari yang satu. Selanjutnya ma'rifah digunakan untuk menunjukan salah satu tingkatan dalam tasawuf. Al-Ghazali[2] menjelaskan bahwa orang yang mempunyai ma'rifah tentang Tuhan, yaitu arif, tidak akan mengatakan ya Allah atau ya rabb karena memanggil Tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan bahwa Tuhan ada di bekalang tabir. Tujuan ma’rifat adalah berhubungan dengan Allah, dengan kendali jiwa kepada eksistensinya yang intern, wasilahnya adalah spiritual.
Keutamaan mahabbah dijelaskan Rasul dalam haditsnya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a: Seorang lelaki yang berasal dari pedalaman bertanya kepada Rasulullah s.a.w: Bilakah berlakunya Kiamat? Rasulullah s.a.w bersabda: Apakah persediaan kamu untuk menghadapinya? Ia menjawab: Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu akan tetap bersama orang yang kamu cintai”.Selain itu Mahabbah dapat mengantarkan hamba yang memiliki kecintaan tersebut di antara penghuni langit. Sebab para malaikat akan selalu mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah atas kedekatannya dengan-Nya, juga karena mereka selalu memenuhi perintah Allah”.
C. PAHAM MAHABBAH DAN MA’RIFAH MENURUT TOKOH SUFI
Paham mahabbah (al hubb) pertama kali diperkenalkan oleh Rabiah Al Adawiyah[3], Paham Mahabbah dan Ma’rifah menurut Tokoh Sufi adalah :
-) Menurut  Abu Yazid al Bustami,"Cinta adalah mengabaikan hal-hal yang datang dari diri, dan memandang besar hal-hal sekecil apapun dari kekasihnya". [4]
-) Menurut al-Sarraj, mahabbah mempunyai tiga tingkat:
1. Cinta biasa, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan dzikir, memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan serta senantiasa memuji Tuhan.
2. Cinta orang yang siddiq (الصديق), yaitu orang yang kenal kepada Tuhan, kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan lain-lain yang mana hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.
3. Cinta orang yang ‘arif (العارف), yaitu orang yang tahu betul pada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang damai.
-) Al-Junaidi ketika ditanya tentang cinta menyatakan bahwa seorang yang dilanda cinta akan dipenuhi oleh ingatan pada sang kekasih, bahkan ia melupakan dirinya sendiri.[5] Paham mahabbah mempunyai dasar al-Qur'an,:
( الما ئدة : 54 ).فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”.
Juga hadits yang menyatakan:
وَلاَ يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ اِلَيَّ بِالنَّوَا فِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ وَمَنْ اَحْبَبْتُهُ كُنْتُ لَهُ سَمُعًاوَبَصَرًا وَ يَـدًا
“Hamba-hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga Aku cinta padanya. Orang yang kucintai menjadi telinga, mata dan tangan-Ku”.[6]
-) Cinta menurut Ibnu al-‘Arabi menjadi tiga cara berwujud:
1. Cinta Ilahiyah: cinta khaliq kepada makhluk yang diciptakan, dan cinta makhluk kepada khaliqnya.
2. Cinta spiritual: cinta makhluk yang senantiasa mencari wujud Penciptanya. tidak memperdulikan, mengarah atau menghendaki apapun selain sang kekasih.
3. Cinta alami: yang berhasrat untuk memiliki dan mencari kepuasan hasratnya sendiri tanpa memperdulikan kepuasan kekasih.
          Sufi pertama yang menonjolkan konsep Ma’rifat dalam tasawufnya adalah Zunnun al-Misri.[7]Ia pun pernah dituduh melakukan Bid’ah sehingga ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diadili di hadapan Khalifah al-Mutawakkil.[8] Ketika ditanya tentang bagaimana Ma’rifat itu diperoleh ia menjawab :
عرفت ربّى بربّى ولو لا ربّى لما عرفت ربّى ""
 “(Aku mengetahui Tuhanku karena Tuhanku, dan sekiranya tidak karena Tuhanku, niscaya aku tidak akan mengetahui Tuhanku)”.[9] Zunnun mengetahui bahwa Ma’rifat yang dicapainya bukan hasil usahanya sebagai sufi, tetapi anugerah Tuhan baginya. Ma’rifah tidak diperoleh melalui pemikiran dan penalaran akal, tetapi bergantung pada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada Sufi yang sanggup menerimanya. Zunnun membagi Ma’rifat ke dalam tiga tingkatan yaitu:
1-Tingkat awam. “mengenal dan mengetahui Tuhan melalui ucapan Syahadat”.
2-Tingkat Ulama.” yang mengenal dan mengetahui Tuhan berdasarkan logika dan penalaran akal”.
3- Tingkat Sufi. “ yang mengetahui Tuhan melalui hati sanubari”.
Istilah Tasawwuf menurut beberapa Ulama Tasawuf antara lain:
a. Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf
"المعرفة جزم القلب بوجود الواجب الموجود متّصفا بسائر الكلمات"
 :“Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.” [10]
b. Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth Thayyib As-Saamiriy yang mengatakan:
"المعرفة طلوع الحقّ, وهو القلببمواصلة الانوار"
“Ma’rifat adalah hadirnya kebenaran Allah (pada Shufi) dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi”[11]
c. Imam Al-Qusyairy dari Abdur Rahman bin Muhammad bin Abdillah:
"المعرفة يوجب السكينة فى القلب كما انّ العلم يوجب السّكون, فمن ازدادت معرفته ازدادت سكينته"
“Ma’rifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran). Barangsiapa yang meningkat ma’rifatnya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya).”[12]
keterangan Dzuun Nuun Al-Mishriy yang mengatakan; ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Shufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifat, antara lain:
a. Selalu memancar cahaya ma’rifat dalam segala sikap dan perilakunya.
b. Tidak memutuskan berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu benar.
c. Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak bagi dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.
Begitu rapatnya posisi hamba dengan Tuhan-nya ketika mencapai tingkat ma’rifat, maka ada beberapa Ulama yang melukiskannya sebagai berikut:
a. Imam Rawiim mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat, bagaikan berada di muka cermin, dan yang dilihatnya hanya Allah SWT saja.
b. Al-Junaid Al-Bahdaadiy mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat, bagaikan sifat air dalam gelas, yang selalu menyerupai warna gelasnya.
c. Sahal bin Abdillah mengatakan, puncak ma’rifat adalah keadaan yang diliputi rasa kekagumam dan keheranan ketika Shufi bertatapan dengan Tuhan-nya, sehingga membawa pada kelupaan dirinya.[13]
D. MAHABBAH DAN MA’RIFAH DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN DAN AL-HADITS
            Tentang Mahabbah dapat dijumpai di dalam Al-Qur’an antara lain :
A.Surat Ali Imran ayat 31 :
قل ان كنتم تحبّون اللّه فاتّبعونى يحببكم اللّه و يغفر لكم ذنوبكم و اللّه غفور رحيم.( ال عمران : 31 )
Artinya : Katakanlah : “ jika kamu ( benar-benar ) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan menggampuni dosa-dosamu“. Allah Maha pengasih lagi Maha penyayang”.
B.Surat Al-Ahzab ayat 4 :
ما جعل اللّه لرجل من قلبين فى جو فه ( الأحزاب : 4 )
Artinya : “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya “. ( QS. Al–Ahzab : 4 )
C.Surat Al-Anam ayat 91 :
قل اللّه ثمّ ذرهم فى خوضهم يلعبون ( الأنعام : 91)
Artinya : Katakanlah : “Allahlah ( yang menurunkan )”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-Qur’an kepada mereka ) biarkanlah mereka bermain-main dlam kesesatannya”. ( QS. Al-Anam : 91 )
D.surat Fussilat ayat 30 :
انّ الّذين قالوا ربّنا اللّه ثمّ استقاموا ( فصلت : 30 )
Artinya : Barangsiapa mengucpkan “ la ilaha illa Allah “ secara ikhlas, dia masuk surga”.
E. Surat Ibrahim ayat 24 :
ضرب اللّه مثلا كلمة طيّبة كشجرة طيّبة اصلها ثابت و فرعها فى السماء ( ابرهيم :24 )
Artinya : “Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik,akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”.(QS. Ibrahim : 24)
F. Surat Fatir ayat 10 :
االيه يصعدالكلم الطيّب ( فاطر : 10 )
Artinya : “ Kepada –Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik “.( QS. Fatir: 10 )
G. Hadits Riwayat Abu Hurairah r. a :
من احبّ لقاء اللّه أحبّ اللّه لقاءه، ومن لم يحبلقاءاللّه تعا لى لقاءه ( رواه البخارى )
Artinya : “ Barangsiapa yang senang bertemu kepada Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Barangsiapa yang tidak senang bertemu Allah, maka Allah pun juga tidak senang bertemu dengannya”. ( HR. Bukhori )[14]
H. Hadits Riwayat Anas bin Malik :
من أهان لى وليا فقد بارزني بالمحاربة، وما تردّدت فى شئ كتردّدى في قبش نفس عبدى المؤمن يكره الموت, وأكره مساءته, ملابدّ له منه, وما تقرّب إليّ من أداء ما افترضت عليه, ولا يزال عبدي تقرّب إليّ با النوافل حتّى أ حبّه, و من أحببته كنت له سمعا وبصراويداومؤيّدا.
Artinya : “ Barangsiapa yang menghina wali-Ku ( kekasih-Ku ), sesungguhnya ia telah terang-terangan memerangi-Ku. Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan seperti Keraguan-Ku ketika mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman. Dia benci kematian dan saya tidak mau menyakitinya, sedangkan kematian itu pasti ada. Tidak ada sesuatu yang  paling Aku sukai yang bisa mendekatkan hamba-Ku dengan-Ku lebih dari melakukan kewajiban yang Aku perintahkan kepadanya. Dan senantiasa mendekati-Ku dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunat sampai Aku mencintainya. Dan barangsiapa  yang telah Aku cintai, maka Aku mendengar, melihat, menolong, dan mendukung-nya.”[15]
I. Nabi Muhammad SAW bersabda :
إذا أحبّ اللّه عزّوجلّ العبد قال لجبريل : يا جبريل إنّي فلانا فأحبّه, فيحبّه جبريل, ثمّ ينادي جبريل فىأهل السّماء: إنّ الله تعا لى قد أحبّ فلانا فأحبّوه, فيحبّه أهل السماء, ثمّ يضع له القبول في الأرض. وإذا أبغض اللّه عزّوجلّ عبدا قال ما لك: لا أحسبه إلاّ قال في البغض مثل ذلك.
Artinya : “ Jika Allah telah mencintai hamba-nya, Allah berkata kepada Jibril a.s, “ Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mecintai fulan, maka cintai dia, Maka Jibril pun mencintainya, Sesungguhnya Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia! Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian Allah memberikan pengabulan kepadanya di bumi. Dan jika Allah membenci seorang hamba, maka Malaikat Malik berkata, Saya tidak menganggapnya kecuali saya membencinya seperti kebencian Allah kepadanya, “ ( HR. Imam Bukhari )[16]
E. PENUTUP
Setelah di raihnya maqam mahabbah tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah). Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imam Ibnu Qayyim menuturkan tahapanan menuju wahana cinta Allah berkaitan dengan amal, yang tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. sebagai refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan yang tercela dan menjerumuskan kepada cinta selain Allah. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih.
Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, adalah bukti bahwa ma’rifat kepada Allah juga tertanam dalam kalbu kita, berusaha mewujudkannya dalam setiap perbuatan, ibadah dan merealisasikannya dalam kehidupan sehingga kita termasuk dalam golongan ma’rifatullah.
Allah tidak melarang bahkan memerintahkan HambaNya untuk mengenal diriNya, Ma’rifat kepada Tuhan tidak bisa ditemukan meskipun dengan menyembahnya secara benar. Ma’rifat ditemukan dengan cara larut dengan-Nya, melalaikan dunia secara total dan terus-menerus berpikir tentang-Nya.
BAB III
Kesimpulan
1- Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam.Pengertian Mahabbah adalah cinta yang luhur, suci dan tanpa syarat kepada Allah.
2- Ma’rifah dari segi bahasa berasal dari kata ‘arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman. Ma’rifat adalah pengetahuan yang objeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir, tetapi lebih mendalam kepada bathin, dengan mengetahui rahasianya.
3- Tujuan Mahabbah adalah untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual, seperti cintanya seseorang yang kasmaran pada sesuatu yang dicintainya, Sedang Ma’rifah bertujuan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari.
4- Inti ajaran mahabbah adalah merupakan sikap dari jiwa yang  mengisyaratkan ke pengabdian diri atau pengorbanan diri sendiri dengan cara mentransendenkan ego, dan menggantinya dengan cinta.
5- Ma’rifah tidak diperoleh melalui pemikiran dan penalaran akal, tetapi bergantung pada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada Sufi yang sanggup menerimanya.
6- Pembahasan Mahabbah dan ma’rifah dapat ditemukan dalam Ayat-ayat al-Qur’an al-Karim dan Hadits-hadits rasulullah SAW.




DAFTAR PUSTAKA
v  Abul Qasim Abdul Karim hamazin Al Qusyairi an Naisaburi, Risalah Qusyairiyah, Jakarta, Pustaka Amani, 1998
v  Al-Buny, Djamaluddin Ahmad. Menelusuri Taman-taman Mahabbah Shufiyah. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002.
v  Al-Hujwiri. Kasyful Mahjub. Bandung: Mizan, 1993.
v  Amin Syukur, Tasawuf Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004.
v  Amin, M. 10 Induk Akhlak Terpuji. Kalam Mulia, 1997.
v  Armstrong, Amatullah. Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Bandung: Mizan, 1996.
v  H. A Mustofa, Drs, Akhlak Tasawwuf, Pustaka Setia, Bandung, 2008
v  H. Abudin Nata, MA, Drs, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), 1996
v  Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), cet XI
v  Harun Nasution, Prof. Dr, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), Cetakan III
v  IAIN Sumatera Utara, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Sumatera Utara, 1983/1984).
v  Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya: Bina Ilmu, 1995)
v  Musthafa, Abdul Aziz. Mahabbatullah Tangga menuju Cinta Allah. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.



[1] H. A Mustofa, Drs, Akhlak Tasawwuf, Pustaka Setia, Bandung, 2008
[2] bagi al-Ghazali ma'rifah urutannya terlebih dahulu daripada mahabbah, karena mahabbah timbul dari ma'rifah. Tetapi Mahabbah disini tidak seperti yang dimaksudkan Rabi’ah al Adawiyah. mahabbah dalam bentuk cinta seseorang kepada yang pemberi rahmat dan rizki.
[3] Tokoh sufi wanita yang lahir di Basrah (95 H) dan wafat 185 H.
[4] Abul Qasim Abdul Karim hamazin Al Qusyairi an Naisaburi, Risalah Qusyairiyah, Jakarta, Pustaka Amani, 1998.
[5] Ibid.
[6] H. A Mustofa, Drs, Akhlak Tasawwuf, Pustaka Setia, Bandung, 2008.
[7] Tokoh sufi yang lahir di Mesir, 180 H / 796 M – 246 H / 860 M, “Zunnun” yang artinya “Yang empunya ikan Nun”.
[8] Khalifah Abbasiyah, memerintah tahun 232 H / 847 M – 247 H  / 861 M.
[9] H. A Mustofa, Drs, Akhlak Tasawwuf, Pustaka Setia, Bandung, 2008.
[10] H. A Mustofa, Drs, Akhlak Tasawwuf, Pustaka Setia, Bandung, 2008.
[11] Ibid.
[12] H. A Mustofa, Drs, Akhlak Tasawwuf, Pustaka Setia, Bandung, 2008.
[13] Ibid.
[14] Hadits riwayat Ubaidah bin Shamit, dikeluarkan oleh Bukhari 11/308 dalam “Ar Raqaqq” bab “ orang-orang yang senang bertemu Allah.
[15] Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abu daud dalam bukunya, Al-Auliya’, Al-Hakim, Ibnu Marduwaih, Abu Nua’im dalam Al-Asma’, dan Ibnu Aakir dari Anas.
[16] Hadits diriwayatkan Abu Hurairah, dikeluarkan oleh Muslim dalam bab “ Berbuat baik dan silaturrahmi”, dan At-Turmudzi dalam At-Tafsir.